Desa  

Abdul Mukarrom, Petani Bojonegoro Sukses Bangun Ladang Bertingkat, Kembangkan Konsep Pertanian Terpadu Hingga Impikan , Tujuh Lantai

admin
IMG 20260819 WA0001

BOJONEGORO – Data Fakta – Keterbatasan luas lahan bukan penghalang untuk berinovasi dan berproduksi maksimal. Hal inilah yang dibuktikan oleh Abdul Mukarrom, atau yang akrab disapa Mbah Dul, warga Dusun Kedungrejo, Desa Kedungdowo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Di atas lahan seluas hanya sekitar 1.400 meter persegi, Mbah Dul berhasil menerapkan konsep Integrated Farming System (IFS) atau Sistem Pertanian Terpadu, mengubah lahannya menjadi “ladang bertingkat” yang kaya akan beragam komoditas hasil bumi.

Selama tujuh tahun terakhir, Mbah Dul terus menyempurnakan sistem pertaniannya agar setiap jengkal tanah dan ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa ada yang terbuang sia-sia. Hasilnya, dalam satu hamparan lahan yang sama, kini mampu menghasilkan berbagai produk pertanian sekaligus melalui pembagian zona dan ketinggian tanaman yang terencana.

Pemanfaatan ruang di lahannya diatur secara rapi berlapis-lapis. Pada lapisan paling bawah, diterapkan sistem mina padi, di mana kolam berisi ikan nila dibangun beriringan dengan tanaman padi sebagai komoditas pangan utama. Naik ke lapisan berikutnya, lahan dikembangkan untuk budidaya melon yang bernilai ekonomi tinggi. Sementara itu, di sepanjang pematang dan pinggiran lahan, ditanami pohon jambu kristal yang turut memperindah sekaligus menambah daftar hasil panen yang diperoleh.

“Prinsip kami sederhana: semua harus dimanfaatkan. Jangan sampai ada ruang yang kosong dan tidak menghasilkan apa-apa. Pertanian itu tidak harus selalu identik dengan lahan yang luas. Dengan pengelolaan yang tepat, satu bidang lahan bisa kita gunakan untuk berbagai kegiatan produksi sekaligus,” ujar Mbah Dul dengan semangat saat menjelaskan konsep yang diterapkannya.

Melalui pola ini, satu kali pengelolaan lahan mampu memanen ikan, padi, melon, hingga jambu kristal. Dampaknya sangat nyata, di mana produktivitas tanah meningkat drastis, ketahanan pangan keluarga semakin kuat, dan pendapatan petani menjadi lebih beragam karena tidak bergantung pada satu jenis komoditas saja.

Baca Juga :  Tulungrejo Bersholawat, Ratusan Jamaah Majlis Dari Berbagai wilayah Banjiri Halaman Masjid Al Hasanah

Namun bagi Mbah Dul, inovasi ini belum berhenti di sini. Ia memiliki mimpi besar untuk mengembangkan sistem ini hingga menjadi pertanian terpadu model “tujuh lantai”. Saat ini, ia baru berhasil mewujudkan empat lapisan, namun tiga tahapan lainnya telah matang dalam rancangannya.

Rencana pengembangan selanjutnya adalah lantai kelima untuk usaha peternakan, lantai keenam difungsikan sebagai pusat pelatihan dan pembelajaran bagi sesama petani, serta lantai ketujuh yang nantinya akan menjadi pusat pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang agar saling berkaitan, mendukung, dan terintegrasi dalam satu kawasan lahan yang sama.

Karya dan inovasi Mbah Dul mendapatkan apresiasi tinggi dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, bahkan turun langsung meninjau lokasi lahan terpadu tersebut pada Rabu (6/8/2026).

Zaenal Fanani menilai, apa yang dilakukan Mbah Dul adalah bukti nyata dan teladan bagi seluruh petani. Menurutnya, sosok ini telah mematahkan anggapan bahwa pertanian maju hanya bisa dilakukan di lahan luas.

“Mbah Dul telah membuktikan bahwa lahan yang tidak terlalu luas pun mampu memberikan hasil yang sangat optimal apabila dikelola dengan cara yang inovatif. Sistem pertanian terpadu seperti ini sangat tepat karena mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, melakukan diversifikasi hasil panen, dan tentu saja memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih baik bagi kesejahteraan petani,” ungkap Zaenal Fanani.

Ia berharap, semangat dan inovasi yang dikembangkan oleh Mbah Dul dapat menjadi inspirasi sekaligus contoh yang direplikasi oleh para petani di berbagai wilayah Bojonegoro. Ke depannya, masa depan pertanian dinilai tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki, melainkan seberapa besar kreativitas, kemauan belajar, dan keberanian petani untuk berinovasi.

Baca Juga :  Wujudkan Desa CANTIK di Bojonegoro, Sosialisasi dan Pelatihan Pertama Digelar di Desa Campurejo

Pemkab Bojonegoro pun menegaskan komitmennya untuk terus mendorong lahirnya inovasi-inovasi serupa. Langkah ini diambil guna mewujudkan sektor pertanian daerah yang semakin maju, berdaya saing tinggi, dan berkelanjutan, sebagai fondasi utama menuju visi besar Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.


Eksplorasi konten lain dari DatafaktaCom

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan