Data Fakta.com – Bojonegoro, 28 Juli 2025 — Di tengah kesejukan udara dan panorama indah Negeri Atas Angin, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, ada satu produk lokal yang mencuri perhatian. MADLING, singkatan dari “Madu Deling”. Produk ini bukan sekadar oleh-oleh khas, tapi cermin dari kekayaan alam dan tradisi Desa Deling yang terus dijaga. Kini, berkat sentuhan program pemberdayaan mahasiswa KKN-TK 20 Universitas Bojonegoro, MADLING diharapkan mampu menjadi produk UMKM yang siap bersaing di ranah wisata Geopark.
Pemilik UMKM MADLING, Pak Edi, telah menekuni budidaya lebah madu dari bangku pelajar. Madu yang ia hasilkan berasal dari lebah lokal yang hidup di hutan sekitar kawasan Sekar, yang masih alami dan minim polusi dan juga dari bebrapa rumah lebah yang terdapat disekitar rumah. Kondisi geografis Sekar yang berada di dataran tinggi, ditambah dengan vegetasi yang kaya, seperti pohon sambi dan pohon sono yang bunganya disukai lebah menjadikan madu Deling memiliki cita rasa khas, lebih kental, dan kadar kemanisannya alami. Tidak heran jika MADLING mendapat predikat sebagai salah satu madu berkualitas di wilayah Bojonegoro.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN-TK 20 Universitas Bojonegoro yang ditempatkan di Desa Deling berinisiatif untuk menjadikan MADLING sebagai fokus program kerja mereka di bidang pengembangan UMKM wisata. Tujuan utamanya adalah mengoptimalisasi pemasaran madu ini agar lebih dikenal masyarakat luas, terutama wisatawan yang berkunjung ke kawasan Geopark Atas Angin.
“Kami melihat MADLING bukan sekadar produk, tapi representasi dari kekayaan alam dan budaya Desa Deling. Maka dari itu, kami ingin mengangkatnya sebagai ikon oleh-oleh khas bagi wisatawan Geopark,” ujar Erika, koordinator bidang UMKM KKN-TK kelompok 20 Desa Deling.
Langkah pertama yang dilakukan tim KKN adalah membantu memperbaiki dan menata ulang kemasan produk. Mahasiswa mendesain label yang lebih menarik, informatif, dan ramah wisatawan. Tak hanya itu, mereka juga mengadakan pelatihan kecil-kecilan kepada Pak Edi dan keluarga tentang pentingnya branding, cara promosi melalui media sosial, serta teknik pengemasan yang higienis namun tetap mempertahankan keaslian produk.
Selain itu, mahasiswa KKN juga menyusun edukasi mandiri seputar manfaat madu alami, cara membedakan madu asli dan palsu, serta sejarah singkat madu Deling sebagai bagian dari narasi wisata. “Dengan narasi sejarah dan edukasi tentang madu ini, kami ingin memberi nilai tambah pada MADLING. Wisatawan tidak hanya membeli produk, tapi juga membawa pulang cerita dari Deling,” tambah Erika.
Geopark Atas Angin sendiri tengah dipersiapkan sebagai salah satu destinasi unggulan di Bojonegoro yang akan diajukan menuju status Geopark UNESCO Global. Keberadaan produk-produk lokal seperti MADLING menjadi pelengkap pengalaman wisata yang tidak hanya memanjakan mata, tapi juga memberikan cita rasa khas daerah.
Program mahasiswa KKN-TK 20 ini sejalan dengan semangat pembangunan desa yang berkelanjutan dan berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan partisipatif dan edukatif, mereka tidak hanya membantu memasarkan produk, tetapi juga menanamkan semangat kemandirian ekonomi di tengah masyarakat.
Pak Edi berharap, lewat program ini, MADLING bisa makin dikenal, bahkan menjangkau pasar online dan festival produk lokal di luar daerah.
“Saya berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa. Saya jadi tahu bagaimana mengemas produk dengan lebih baik dan bagaimana menarik perhatian pembeli, apalagi kalau nanti banyak wisatawan ke Geopark,” ungkapnya dengan senyum bangga.
MADLING kini bukan hanya tentang manisnya madu, tetapi juga manisnya kolaborasi antara kampus, masyarakat, dan alam Desa Deling. Sebuah langkah kecil dari kaki mahasiswa, namun berdampak besar bagi masa depan desa wisata.
Eksplorasi konten lain dari DatafaktaCom
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












