BOJONEGORO || Data Fakta.com – Dunia jurnalistik kembali mendapat sorotan kurang baik akibat perilaku oknum yang mengaku sebagai wartawan namun sama sekali tidak memiliki karya atau produk jurnalistik yang layak. Hal ini menjadi perhatian serius dan menimbulkan keprihatinan dari rekan-rekan sejawat yang benar-benar berjuang menjaga integritas profesi kewartawanan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, seorang oknum wanita asal wilayah Bojonegoro Kec Sumberrejo yang kerap mengaku berprofesi sebagai wartawan terlihat sangat aktif bergerak di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan berbagai kalangan. Namun, aktivitas yang dilakukannya jauh dari tugas dan fungsi jurnalis yang sesungguhnya. Alih-alih mencari informasi, mengumpulkan data, menulis, dan menyajikan berita yang akurat serta berimbang, oknum tersebut justru melakukan hal-hal yang dianggap tidak pada tempatnya atau ‘ngawur’, yang perlahan namun pasti merusak nama baik dan citra seluruh insan pers.
Pasalnya, oknum tersebut diketahui sering menggunakan pendekatan yang tidak wajar, bahkan kerap merayu atau menggoda pihak-pihak yang ditemuinya, baik itu narasumber maupun Clayen semata-mata hanya demi mencari keuntungan pribadi. Tugas utama jurnalis yang seharusnya menggali fakta dan menyampaikan informasi kepada publik justru ditinggalkan, dan diganti dengan perilaku yang tidak mencerminkan etika profesi.
Melihat fenomena yang sangat disayangkan ini, Fitriya, salah satu wartawan wanita yang berdedikasi di media memo kita.com, turut angkat suara dan menyampaikan keprihatinan serta kekecewaannya yang mendalam. Menurutnya, profesi jurnalis adalah amanah besar yang tidak sepatutnya dijadikan alat untuk mencari keuntungan sepihak tanpa memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan, baik bagi profesi maupun bagi masyarakat luas. Senin 10 Agustus 2026.
“Saya sangat prihatin dan kecewa. Tugas dan fungsi jurnalis itu mulia, tetapi sayang ada oknum yang menjadikannya sekadar alat mencari keuntungan saja, tanpa memikirkan dampaknya,” ungkap Fitriya.
Ia pun menegaskan bahwa perilaku oknum tersebut tidak boleh disamaratakan dengan seluruh wartawan wanita yang ada.
“Perlu saya tegaskan, tidak semua wartawan wanita seperti itu. Seorang wartawan sejati, baik laki-laki maupun perempuan, pasti memiliki kemampuan utama yaitu bisa menulis berita yang benar dan bermanfaat. Lebih dari itu, menjadi wartawan itu harus bisa apa saja, harus cekatan, tangguh, mampu beradaptasi, teliti, memegang teguh kode etik, dan berani menyampaikan kebenaran. Jurnalis itu profesi yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan integritas tinggi, bukan sekadar mengaku berprofesi tanpa bukti karya,” tegas Fitriya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen pers dan masyarakat agar lebih waspada dan cermat membedakan antara wartawan profesional yang bekerja sesuai aturan, dengan oknum-oknum yang memanfaatkan nama besar profesi ini untuk kepentingan pribadi semata. Harapannya, kejadian seperti ini tidak kembali terulang dan citra jurnalis sebagai penjaga kepentingan publik tetap terjaga dengan baik.
Eksplorasi konten lain dari DatafaktaCom
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












