Gerakan Sajak: Sampah Plastik Jadi Alat Bayar Pajak, Inovasi Desa Tebon yang Dipuji TP PKK Bojonegoro

admin
IMG 20260827 WA0006

 

 

BOJONEGORO || Data Fakta.com – Selama ini sampah plastik kerap dianggap sebagai sumber utama pencemaran dan permasalahan lingkungan. Namun, pandangan itu tampaknya tidak berlaku di Desa Tebon, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Di tangan warga desa tersebut, limbah plastik justru disulap menjadi bernilai ekonomi, bahkan berfungsi layaknya “mata uang” yang dapat digunakan untuk membantu melunasi kewajiban pembayaran pajak daerah.

 

Terobosan cerdas yang diberi nama Gerakan Sajak atau kepanjangan dari Sampah untuk Bayar Pajak ini menjadi sorotan utama dan mendapatkan apresiasi tinggi dari Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono. Penilaian tersebut disampaikan saat Cantika melakukan kunjungan desa terpadu sekaligus pembinaan administrasi PKK di Desa Tebon pada Rabu (26/8/2026).

 

Dalam rangkaian peninjauan tersebut, Cantika bersama rombongan menyambangi sejumlah titik kegiatan strategis masyarakat. Mulai dari layanan kesehatan di Posyandu, lembaga pendidikan anak usia dini seperti PAUD dan TK, lokasi pemanfaatan program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri), pusat pengolahan sampah, hingga menyapa langsung warga lanjut usia yang hidup sendiri atau sebatang kara.

 

Saat meninjau pengelolaan limbah, terungkap bahwa saat ini Desa Tebon telah memiliki tiga pusat pengumpulan dan pengolahan ulang sampah plastik yang tersebar di wilayah desa. Melalui program Sajak, warga dibiasakan untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, sebelum kemudian menyetorkan sampah plastik ke titik pelayanan yang telah disediakan.

 

Setiap sampah yang disetorkan memiliki nilai tukar yang selanjutnya dikonversikan menjadi nilai rupiah. Nilai inilah yang kemudian dimanfaatkan warga untuk meringankan beban pembayaran pajak, seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) maupun kewajiban retribusi daerah lainnya.

 

Inovasi ini dinilai sangat efektif karena mampu memecahkan dua masalah sekaligus dalam satu waktu. Di satu sisi, volume sampah plastik yang mencemari lingkungan berkurang drastis karena ada nilai ekonomi yang menggerakkan warga untuk memungut dan memilah. Di sisi lain, kesadaran dan kepatuhan masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan juga ikut meningkat signifikan.

 

Program Gayatri Perkuat Ekonomi dan Ketahanan Pangan

 

Selain mengapresiasi inovasi di bidang lingkungan, Cantika Wahono juga menaruh perhatian besar pada pengembangan program Gerakan Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) yang telah diterapkan di tingkat rumah tangga.

 

Menurutnya, budaya memelihara sekitar 7 hingga 10 ekor ayam petelur di pekarangan rumah terbukti memberikan dampak ganda bagi keluarga. Hasil telur yang dipanen dapat langsung dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi anggota keluarga. Sementara jika hasil panen berlebih, telur tersebut bisa dijual kembali menjadi pemasukan tambahan ekonomi keluarga setiap harinya.

 

“Harapan kami, program Gayatri ini semakin memperkuat ketahanan pangan masyarakat, sekaligus menjadi roda penggerak ekonomi keluarga. Langkah ini sangat sejalan dengan upaya pemerintah dalam menurunkan angka kemiskinan di desa-desa,” ujar Cantika saat berdialog dengan warga.

 

Edukasi Cegah Pernikahan Anak dan Kreativitas Remaja

 

Tak hanya berbicara ekonomi dan lingkungan, agenda pembinaan ini juga menyentuh aspek sosial masyarakat, khususnya upaya menekan angka pernikahan dini atau pernikahan anak. Cantika mendorong para orang tua dan kader PKK untuk lebih aktif mendampingi para remaja di lingkungannya.

 

Ia mengajak agar energi dan kreativitas generasi muda disalurkan pada kegiatan-kegiatan positif dan produktif, seperti olahraga, kesenian, hingga pengembangan keterampilan berbasis teknologi atau kreativitas digital. Hal ini dinilai penting untuk menjauhkan remaja dari hal negatif sekaligus mempersiapkan mereka menjadi generasi yang mandiri dan berdaya saing.

 

Cantika menegaskan, berbagai terobosan brilian yang telah dijalankan warga Desa Tebon, mulai dari Gerakan Sajak, Gayatri, hingga edukasi sosial, telah sejalan dengan arah kebijakan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X PKK periode 2025–2030. Langkah ini juga selaras dengan program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang berfokus pada pelestarian lingkungan hidup, penguatan ekonomi keluarga, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.


Eksplorasi konten lain dari DatafaktaCom

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan