BOJONEGORO || Data Fakta.com – Di balik rimbunnya pepohonan dan lekuk perbukitan Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, tersembunyi sebuah permata alam yang menyimpan kekayaan geologis luar biasa. Bernama Mata Air Panas Banyu Kuning, objek wisata alam yang terletak di Desa Krondonan ini bukan sekadar destinasi rekreasi, melainkan bagaikan laboratorium alam terbuka yang menawarkan wawasan mendalam mengenai sistem panas bumi, proses hidrotermal, hingga interaksi unik antara air tanah dan batuan vulkanik purba. Keberadaannya menjadi penanda nyata bahwa di bawah hamparan tanah Bojonegoro, tersimpan potensi besar sumber daya energi panas bumi yang menanti untuk dikaji dan dimanfaatkan.
Sesuai namanya, ‘Banyu Kuning’ memiliki makna harfiah dalam bahasa Jawa sebagai “Air Kuning”. Namun ada keunikan menarik di balik penamaan tersebut. Saat melihat langsung mata airnya, air yang mengalir justru tampak sangat jernih dan bening. Warna kuning yang menjadi ciri khas tempat ini sebenarnya berasal dari lapisan endapan yang menutupi bebatuan di dasar aliran sungai. Warna cerah tersebut terbentuk dari kandungan oksida besi atau Fe₂O₃ yang terlarut dalam air, kemudian mengendap dan melapisi setiap bebatuan yang dilaluinya, menciptakan pemandangan kontras yang mempesona.
Untuk mencapai lokasi wisata ini dari pusat Kota Bojonegoro, pengunjung harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 50 kilometer. Rute perjalanan akan membawa wisatawan melewati kawasan hutan di Kecamatan Temayang dengan jalanan yang berkelok dan menanjak, hingga kemudian menuruni jalan setapak menuju ke lokasi mata air. Meski akses yang ditempuh cukup menantang, keindahan alam yang masih sangat asri, sejuk, dan alami sepanjang perjalanan menjadi bayaran yang sepadan. Lokasi ini pun menjadi surga bagi para pecinta fotografi karena pemandangan alamnya yang masih sangat alami dan jarang tersentuh.
Secara geografis, Banyu Kuning terletak tepat di kawasan kompleks perbukitan vulkanik Gunung Pandan. Suhu air panas yang muncul ke permukaan di lokasi ini tercatat berkisar antara 40°C hingga 60°C. Suhu yang cukup hangat ini menjadikan Banyu Kuning sangat potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata pemandian air panas alami yang menyehatkan. Selain itu, hasil analisis menunjukkan air di sini mengandung belerang atau sulfur, salah satu indikator utama aktivitas hidrotermal yang kuat di bawah permukaan bumi.
Mengutip data lengkap yang dipublikasikan dalam situs resmi Geopark Bojonegoro, secara geologis kawasan ini tersusun atas batuan andesit yang merupakan sisa hasil aktivitas vulkanik Gunung Pandan purba. Karakteristik batuan ini berwarna abu-abu dengan tekstur hipokristalin, yang didominasi oleh mineral fenokris hornblenda dan plagioklas yang tertanam dalam massa dasar gelas vulkanik. Meski bersifat masif, batuan andesit ini memiliki banyak rekahan dan celah yang berfungsi sebagai jalur utama sirkulasi air tanah ke atas dan ke bawah. Secara umur geologis, litologi di kawasan ini didominasi oleh penggalan-penggalan lava andesit dan breksi vulkanik yang terbentuk pada zaman Pleistosen atau sekitar ratusan ribu tahun lalu.
Proses terbentuknya Mata Air Panas Banyu Kuning adalah sebuah rangkaian peristiwa alam yang menakjubkan. Berawal ketika air tanah dari lapisan akuifer di bawah permukaan bersirkulasi turun ke kedalaman yang lebih dalam dan bersentuhan langsung dengan batuan andesit yang masih menyimpan sisa panas dari aktivitas magmatisme purba di bawah sana. Air yang terkena panas tersebut kemudian memuai dan naik kembali ke permukaan bumi menerobos melalui rekahan-rekahan batuan yang ada.
Selama perjalanan naik ke atas, air panas ini berperan sebagai pelarut alami yang mengambil berbagai kandungan mineral dari batuan yang dilewatinya, terutama unsur oksida besi. Saat air panas tersebut akhirnya keluar ke permukaan dan bertemu dengan suhu udara yang lebih dingin serta tekanan yang berubah drastis, zat oksida besi yang terlarut tadi mengalami proses pengendapan atau presipitasi. Endapan inilah yang kemudian menempel dan melapisi bebatuan menjadi berwarna kuning hingga kemerahan.
Menariknya, di sekitar area mata air panas ini juga dapat ditemukan pembentukan mineral sekunder berwarna merah. Keberadaan mineral ini semakin menguatkan fakta bahwa kandungan zat besi atau Fe di dalam air sangat signifikan, hasil interaksi fluida panas yang kaya mineral saat keluar dari perut bumi.
Keberadaan Banyu Kuning bukan hanya menambah kekayaan pariwisata Bojonegoro, tetapi juga menjadi bukti nyata warisan geologis yang sangat berharga. Kawasan ini menjadi saksi bisu sejarah vulkanologi masa lalu sekaligus penanda potensi energi terbarukan yang tersimpan di wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Eksplorasi konten lain dari DatafaktaCom
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.












